Rabu, 19 September 2018

Review Jurnal (Perikanan)

Review Jurnal
 (Memenuhi tugas MK. Manajemen Tata Lingkungan Akuakulture)








Oleh :
FATMA TOOLINGO
1111416016
BDP-A







UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
BUDIDAYA PERAIRAN
2018






REVIEW JURNAL

Judul : Disain Kebijakan Pengelolaan Perikanan Budidaya Untuk Menunjang Ekosistem Danau Limboto Lestari
Jurnal : Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan.,
Volume & Halaman : Volume 1,  & Hal. 186-192.
Tahun : 2013
Penulis : Hasim
Reviewer : Fatma Toolingo
Abstrak :
Secara keseluruhan isi dari abstrak sudah menjelaskan topic bahasan yang dibahas dalam jurnal ini, yang membuat pembaca menjadi mudah dalam memahami isi jurnal ini.
Pendahuluan :
Pada paragraf pertama penulis menjelaskan bahwa danau mempunyai peranan penting bagi mansyarakat sekitar yang memiliki ketergantungan ekonomi terhadap danau itu sendiri. Bedasarkan studi literatur terdapat 329 RTP dengan system KJA dan 1454 RTP nelayan, sedangkan nelayan bibilo mencapai 785 RTP (Badan Riset Kelautan dan Perikanan, 2007). Dengan demikian seluruh RTP di danau Limboto ialah 2569. Bila masing-masing RTP terdapat dua kepala rumah tangga, maka ada 5138 rumah tangga. Bila asumsinya satu rumah tangga terdapat 4 anggotanya, maka penduduk yang memiliki ketergantungan ekonomi terhadap danau ialah 20.552 jiwa.
Paragraf selanjutnya menjelaskan bahwa perairan danau Limboto mengalami pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Hal tersebut ditunjukkan oleh tanaman air, hampir 50 persen dari luas permukaan danau, (Sarnita, 1993). Menurut Boyd (1998) bahwa populasi tanaman air yang mencapai 10-20 persen dari luas permukaan perairan akan menyulitkan pengelolaan perikanan.
Paragraf selanjutnya menjelaskan Stentang uji coba KJA di Danau Limboto sejak tahun 1988. Hal tersebut ditunjukkan oleh jumlah Karamba Jaring Apung (KJA) yang mengelami kenaikan. Pada tahun 1993 jumlah KJA 500 unit dan berkembang menjadi 1.962 unit pada tahun 2007. Sedangkan jumlah pembudidaya ikan ialah 329 RTP (Badan Riset Kelautan dan Perikanan. 2007). Umumnya jenis ikan yang dipelihara ialah ikan nila Oreochromis nilaticus, ikan mujair Oreochromis musambica dan ikan mas Cyrprinus carpio.
Paragraf Selanjutnya penulis membahas Beberapa hasil penelitian yang melaporkan bahwa perikanan budidaya intensif dan pengkayaan nutrien berdampak potensial pada perubahan kualitas air (Johansson et al., 1997; Boyd, 1998). Selanjutnya Haven et. al. (2001) dan Johansson et.al. (1998) menyatakan bahwa perikanan budidaya di danau memiliki limbah organic tinggi dan berperan dalam eutrofikasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menkaji kelayakan kondisi perairan danau Limboto untuk pengembangan KJA dan mendesain kebijakan pengelolaan budidaya sistem KJA yang berkelanjutan.
Metode Penelitian :
Penelitian ini dilakukan dengan kombinasi antara metode survey dengan library research. Metode survey yaitu pengumpulan data berdasarkan observasi dan pengukuran lapangan berbasis sampel. Analisis yang digunakan yaitu winexsys, ISM dan AHP. Analisis penentuan kesesuaian danau menggunakan system pakar berbasis winexsys (Marimin, 2007)
Hasil dan Pembahasan :
Pengukuran kualitas air di lakukan pada empat stasion pengamatan. Berdasarkan hasil pengukuran, Idialnya kedalaman kolom air untuk kegiatan budidaya minimal 6 meter, agar jarak antara jaring KJA dengan dasar danau tidak terlalu dekat. Karena dekatnya jarring bagian bawah ke dasar danau memiliki resiko keracunan gas anorganik dari dasar sangat tinggi.
Berdasarkan analisis AHP menunjukkan bahwa pada level factor, factor yang memiliki skor tertinggi dibanding factor lainnya ialah kebijakan (48,7%). Artinya factor kebijakan memiliki pengaruh paling besar terhadap pencapain focus pembudidaya bahwa sering terjadi kematian ikan secara massal di Danau Limboto. Kematian massal mengindikasi terdapatnya senyawa kimia yang bersifat racun yang disebabkan oleh naiknya gas-gas tersebut dari dasar ke bagian lapisan atas.
Berdasarkan hasil analisis ISM tersebut di atas memberikan arahan tafsir bahwa sinergisitas dan pengurangan sedimen secara signifikan menjadi elemen kunci pada elemen tujuan pengelolaan perikanan budidaya yang menunjuang kelestarian danau. Artinya pemerintah dan pengampuh kepentingan harus memiliki komitmen yang sama dalam mewujudkan sinergisitas. Untuk elemen kebutuhan yang menjadi elemen kunci ialah partisipasi dan pemberdayaan. Artinya partisipasi dan pemberdayaan masyarakat faktor penting jika kegiatan perikanan budidaya diorientasikan untuk mendukung kelestarian danau.
Simpulan :
Pada bagian kesimpulan, penulis membuktikan dan menjelaskan bahwa kelayakan kondisi perairan danau Limboto dapat ditunjang dengan adanya pengawasan dari masyarakat sekitar maupun pihak pemerintah dalam mewujudkan sinergitas.
Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa tidak semua lokasi danau sesuai untuk pengembangan perikanan budidaya. Faktor kebijakan, pemerintah, daya dukung dan pengelolaan berbasis masyarakat prioritas untuk diperhatikan. Sedangkan elemen kunci untuk pengembangan kebijakan ialah sinergi, egosektoral, dan pengendalian sedimen.





REVIEW JURNAL INTERNASIONAL

Judul : Suitable location map of floating net cage for environmentally friendly fish farming development with Geographic Information Systems applications in Lake Limboto, Gorontalo, Indonesia
Jurnal : AACL Bioflux,
Volume & Halaman : Volume 10,  & Hal. 254-264
Tahun : 2017
Penulis : Hasim, Yuniarti Koniyo, Faizal Kasim
Reviewer : Fatma Toolingo
Abstrak :
Jurnal yang berjudul “Suitable location map of floating net cage for environmentally friendly fish farming development with Geographic Information Systems applications in Lake Limboto, Gorontalo, Indonesia” ini berisi tentang gambaran lokasi yang cocok untuk jaring apung untuk budidaya ikan ramah lingkungan pembangunan dengan Informasi Geografis Aplikasi sistem di Danau Limboto.
Secara keseluruhan isi dari abstrak sudah menjelaskan topic bahasan yang dibahas dalam jurnal ini, yang membuat pembaca mengetahui aspek-aspek yang di bahas dalam jurnal ini.
Pengantar :
Pada paragraph pertama penulis menjelaskan Danau Limboto (Indonesia) terletak di dataran rendah Gorontalo Propinsi. Ini memiliki 23 sungai dan anak sungai sebagai saluran masuk, dan hanya satu outlet. Menurut Hasim (2012), dengan manajemen status quo seperti sekarang, Lake Limboto akan hilang 2025. Selain itu, kualitas air Danau Limboto menurun sebagai dampak dari berbagai kegiatan ekonomi di wilayah tersebut. Kandang jaring apung (selanjutnya disebut sebagai budaya kandang) adalah dominan sistem budidaya ikan budidaya ditemukan di Danau Limboto di samping sistem perikanan tangkap. 
Di sisi lain, Mc Donad et al (1996), Pulatso (2003) dan Janssen (2001) menyatakan bahwa ikan intensif di danau memiliki dampak pada pengayaan nutrisi dan mengurangi potensi kualitas air budidaya ikan, serta menyediakan perbanyakan konten fosfor. Lebih lanjut, dinyatakan bahwa kegiatan ini memiliki efek pada daya dukung danau.
Pada paragraph selanjutnya membahas Evaluasi kesesuaian lokasi adalah tahap awal untuk menentukan kesesuaian lokasi untuk budidaya budidaya ikan kandang. Memilih lokasi yang tepat dan bagus adalah salah satu yang kritis faktor keberhasilan dalam sistem budaya kandang. Pilihan lokasi harus dipertimbangkan faktor lingkungan dan kualitas air karena kelayakan lokasi sesuai dengan persyaratan kelangsungan hidup dan pertumbuhan komoditas pertanian menuju perairan lingkungan Hidup. 
Pengembangan unit sistem budaya kandang di Danau Limboto belum terintegrasi dengan pertimbangan daya dukung lingkungannya. Fakta menunjukkan itu penempatan lokasi sistem kandang tidak mempertimbangkan lingkungan kondisi danau. Tingkat perkembangan yang cepat dari jumlah unit kandang dan Ketidaktahuan akan aspek lingkungan akan meningkatkan beban ekologis pada Danau Limboto. 
Sistem informasi geografis (GIS) adalah salah satu pilihan dalam menentukan lokasi ideal untuk mengembangkan budidaya ikan. Ini dapat mengintegrasikan banyak data dan informasi tentang budidaya ikan dalam bentuk lapisan yang nantinya dapat dilapis dengan data lain di Indonesia perintah untuk menghasilkan keluaran baru dalam bentuk peta tematik dengan tingkat tinggi yang memadai efisiensi dan akurasi. Pemanfaatannya dapat membantu atau memfasilitasi analisis data dan dapat membantu dalam menentukan lokasi yang paling tepat untuk budidaya ikan. 
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air melalui beberapa fisik dan parameter kimia dan menganalisis kesesuaian lahan untuk sistem budidaya ikan budidaya kandang oleh teknologi GIS. 
Bahan dan Metode.  
Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari 16 stasiun yang ditentukan secara acak. Pada penelitian ini juga menggunakan data sekunder dan data primer. Data primer adalah data dari hasil pengukuran parameter kimia-fisik air, termasuk pengukuran suhu, arus, DO, amonia, kedalaman, kecerahan, pH dan BOD5 keduanya dilakukan in situ atau ex situ yang hasilnya diolah di laboratorium. Sedangkan data sekunder adalah data yang berhubungan dengan peta lokasi.

 
Hasil dan diskusi : 
  • Dari hasil suhu pengukuran dilakukan di perairan Danau Limboto, mereka menunjukkan bahwa air suhu di hampir seluruh stasiun layak untuk kegiatan budidaya ikan.  
  • Hasil pengukuran terbesar pada kedalaman air di Danau Limboto ditemukan di stasiun 14 (1,8 m) dan yang dangkal di stasiun 4 (0,78 m). Situasi ini menunjukkan bahwa parameter kedalaman perairan Danau Limboto diklasifikasikan dalam kategori 'tidak cocok' untuk kegiatan budaya kandang.
  • Parameter transparansi perairan Danau Limboto adalah tidak lagi cocok untuk kegiatan budidaya ikan. Itu karena parameter hasil pengukuran nilai kecerahan di seluruh stasiun kurang dari 20 cm.  

  • Perairan Danau Limboto tergolong tidak sesuai untuk budaya kandang. Sebagaimana dinyatakan oleh Alabaster & Lloyd (1982), pH berkisar 5-6 mungkin mematikan untuk ikan.
  • DO pada Perairan Danau Limboto sangat cocok untuk kegiatan budidaya ikan. Pengukuran air danau di Danau Limboto menunjukkan keseragaman nilai 6  
  • Hasil pengukuran Isi BOD di perairan Danau Limboto menunjukkan bahwa perairan Danau Limboto tidak sesuai untuk kegiatan budaya kandang, karena kandungan BOD yang sangat tinggi tersedia di Danau Limboto perairan. 
Berdasarkan hasil analisis, menunjukkan bahwa di antara delapanparameter fisik-kimia ada dua yang dikategorikan sesuai, sedangkan yang laintidak layak. Di antara 16 stasiun pengamatan, 11 stasiun dikategorikan sebagai tidak sesuai, sedangkantetap diklasifikasikan sebagai sedikit sesuai. Luas total perairan danau cocok untuk sistem KJAadalah 8,03 ha (0,36%), sedangkan 2195,57 (99,64%) tidak sesuai.
 
Simpulan :
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : 
  • Ada delapan parameter fisik dan kimia diukur pada 16 stasiun yang menunjukkan berbagai nilai. Secara umum, hanya ada dua parameter yang memenuhi kategori ‘sangat cocok’ yaitu suhu dan DO;  
  • Berdasarkan analisis SIG, perairan yang cocok untuk sistem kultur kandang berdasarkan marjinal yang sesuai adalah 8,03 ha (0,36%), sedangkan area yang tidak sesuai adalah sekitar 2.195,57 ha (99,64%);  
  • Secara keseluruhan, kedalaman perairan Danau Limboto kurang dari 2 meter, sehingga tidak layak untuk pengembangan sistem budidaya budidaya sangkar ikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar